Title : Zhu Ni Sheng Ri Kuai Le, Chun! [Special for Wu Chun’s Birthday]
Author : dita-cHun © 2011
Type : Oneshot
Genre : Angst
Rating PG+12
Theme Song : Goodbye Days by YUI
POV : Author
Main Cast :
*Wu Chun
*Li Zhao Xiu (OC)
Disclaimer : Wu Chun punya Tuhan, titik. xD
Warning : ~gaje binti abal~ segala kekurangan adalah punya saya
A/N : -
Sesosok pria tegap melangkahkan kakinya perlahan namun pasti. Menjejakkan kaki untuk kesekian kalinya di tanah yang sama. Tanah yang sama sekitar empat belas tahun silam. Lama kakinya terus melangkah, menaiki undakan—tanjakan. Undakan menyerupai ribuan anak tangga itu seolah tak habis dijejaknya. Betapa tiap sekon terasa begitu berarti baginya, tiap sekon sejak empat belas tahun yang lalu. Sembari menggendong sebucket bunga matahari, ia terus menaiki undakan itu.
“Xiu…” gumamnya pelan namun mantap. “Aku datang,” lanjutnya begitu ia melihat sebuah rumah minimalis di puncak undakan itu.
Pria itu tersenyum sekilas melihat sebuah ayunan kecil di sisi rumah itu. Ia lekas berjalan ke arah sana dan membenarkan posisinya agar ia duduk dengan nyaman di atas bangku ayunan kayu itu.
.
Krieet… Krieet…
.
Betapa, meski orang tuli sekalipun mampu mendengar—merasakan—suara kayu dan besi yang sudah mulai lapuk itu. Miris. Ya, dulu suara itu tak sekeras ini ketika ia dan Xiu duduk bersama. Suara itu dulu begitu merdu. Ya… Dulu…
Pria yang notabene adalah Wu Chun—yang pernah tumbuh di antara ratusan penyandang cacat. Dulu pernah… Ketika warna siang dan malam adalah hitam. Ketika matahari belum mampu dibayangkannya. Ia pernah mendengar bahwa warna matahari itu kuning keemasan, menyilaukan, dan indah. Tapi, tak satupun makna yang dimengertinya. Karena baginya, matahari tidak adil. Ia hanya bisa menunjukkan dirinya pada orang yang bisa melihat siang dan malam, pada orang yang matanya masih berfungsi dengan baik. Tapi, itu hanyalah hipotesisnya di masa lalu.
“Kalau kau tidak bisa melihat matahari dengan matamu, mari lihat matahari dengan hatimu, rasakan kehangatannya di kulitmu. Bukankah sudah cukup adil?” Chun pernah mendengar untaian kalimat itu—ia tak pernah melupakannya, meskipun sedikit.
Ia masih ingat sekali kejadian empat belas tahun silam, meski ia tak melihatnya. Pagi itu terasa sama seperti pagi-pagi sebelumnya, Chun pergi ke sekolah dengan sebuah tongkat yang menuntun jalannya. Pria berusia enam belas tahun itu sudah hafal benar jalan menuju sekolahnya. Dari rumah, hanya perlu waktu kurang lebih lima belas menit tempuh dengan jalan kaki menuju tempat belajarnya. Tempat dimana tak sedikit ia menjumpai teman-teman yang bernasib sama dengannya—buta.
“Ren shi ni hen gao xing, wo jiao Li Zhao Xiu (Senang bertemu dengan kalian, namaku Li Zhao Xiu). Aku adalah guru baru yang akan mengajar kalian semua. Mohon bantuannya,” seorang gadis berusia dua puluh tahunan itu menyapa murid-muridnya. Meski ia tahu bahwa, seluruh kelas itu tak mungkin melihat kecantikan parasnya, ia tetap mengukir segaris senyum di wajahnya.
Chun masih mengingat suara lembut yang pernah menyusup ke telinganya itu. Ia masih ingat nada kebahagiaan yang pernah dilontarkan guru barunya itu. Ingat sekali.
“Li Laoshi (Guru Li), usiamu masih sangat muda ya?” tanya Chun. Kala itu mereka berdua sedang duduk di kelas yang sudah sepi. Mayoritas murid-murid sudah bergegas pulang ke rumah mereka masing-masing. Hanya ada Chun dan Xiu.
Xiu tersenyum sekilas sebelum mulai menjawab, “Bagaimana kau tahu?”
“Suaramu masih sangat lembut, seperti suara anak-anak,” jawab Chun singkat. Xiu tertawa mendengarnya.
“Kenapa kau tertawa? Orang sepertiku hanya bisa mengenali orang lain dari suara,” protes Chun. Xiu menghentikan tawanya, “Dui bu qi, aku tidak menertawakanmu, kok.”
“Berapa usiamu?” tanya Chun.
“Aku dua puluh,” jawab Xiu. Chun mengangguk mengerti.
.
Pertanyaan yang tidak mungkin, mungkinkah mampu terjawab?
.
“Li Laoshi…”
“Hm? Kau boleh memanggilku Xiu di luar jam sekolah,” ucap Xiu sambil membereskan barang-barangnya—bersiap pulang.
“Mungkinkah aku melukis? Aku ingin melukis dunia. Bukankah kau pernah bercerita bahwa dunia itu indah?”
Xiu tertegun mendengarnya. Ia tak tahu apa yang harus dikatakannya pada murid di hadapannya itu. Orang buta… Mungkinkah baginya untuk melukis? Kalaupun itu mungkin, tentu sangat kecil kemungkinannya. Melukis adalah kegiatan dengan mata… Akankah? Akankah siswanya yang belum pernah sama sekali melihat warna dan dunia itu mampu melakukannya? Ia sangsi. Kalaupun seandainya dulu Chun pernah melihat dunia meski sejenak, mungkin ia bisa melakukannya. Tapi, Chun tidak mungkin. Ia sudah buta sejak lahir—kecuali matanya berfungsi kembali.
“Xiu… Apa aku bisa? Kenapa kau diam saja? Aku ingin menjadi pelukis… Suatu saat…” ucap Chun dengan senyum mengembang di wajahnya.
Betapa Xiu tidak ingin menghancurkan harapan siswa di hadapannya itu. Cita-cita yang begitu rumit untuk terlaksana. Xiu meringsek dari tempatnya, ia menepuk pundak Chun. Akankah ia bicara tentang kenyataan?
“Kurasa… Kemungkinan itu ada. Tapi, sangat kecil…” Xiu meneteskan air matanya. Ia benar-benar tak tega.
“Ehh? Zhen de ma? (Sungguh, kah?) Kalau begitu, kau harus membantuku!” seru Chun semangat.
“Eh?”
“Hm! Bukankah aku buta sejak lahir? Tentu aku harus tahu lebih banyak tentang dunia! Bukankah dunia itu adalah warna-warni? Bukan hitam seperti yang kulihat…” ucap Chun. “Kau harus memberitahuku, Xiu. Pertama-tama, bagaimana dengan matahari?”
“Matahari?”
“Shi a! (ya) Kau pernah bilang bahwa matahari itu indah, bukan? Lalu bagaimana matahari itu? Bentuknya? Warnanya?”
“Matahari itu lingkaran—kurasa—dengan warna kuning keemasan yang menyilaukan,” ucap Xiu menerangkan.
“Xiu… Aku tidak mengerti… Aku tidak pernah melihat warna kuning keemasan atau merasakan silau. Bisakah kau menjelaskan dengan sesuatu yang aku mengerti?” tanya Chun.
Xiu berjalan ke arah laci dekat tempat mereka berdiri. Ia mengambil sebuah cat minyak dari dalam sana.
“Apa kau merasa mereka berbeda?” tanya Xiu sambil menggenggamkan beberapa warna cat ke tangan Chun. Chun mencoba mencerna perbedaan di antara semua cat.
“Aku tidak tahu…”
Xiu menangis. Ia miris mendengar ucapan muridnya itu. “Kalau begitu kau cium aromanya? Mungkin berbeda?” ucap Xiu mencoba cara lain. Ia bingung, bagaimana jika tidak berhasil lagi?
Chun mengikuti apa yang dikatakan Xiu. Ia merasa memang ada beberapa aroma khas yang cukup kental dari tiap-tiap warna cat itu. “Aku tahu,” Chun tersenyum.
“Lalu? Mana warna matahari?” tanya Chun lagi. Xiu menyerahkan cat berwarna kuning dan orange. “Campur kedua warna itu, kau akan mendapatkannya,” ucap Xiu.
“Ahh~ jadi begitu…” Chun mengangguk kecil.
“Lalu bagaimana dengan warna hujan?” tanya Chun.
“Hujan? Kurasa… Kau perlu warna ini untuk membuatnya,” Xiu menyerahkan dua warna lagi ke arah Chun. “Ah… Begitu. Kalau begitu aku pulang dulu ya, Xiu! Kalau lukisanku sudah jadi, aku akan menunjukkannya padamu! Wo da ying ni! (aku janji padamu) Bai bai! (bye)”
.
Lalu serpihan penyesalan dan kebahagiaan itu masihkah ada disana?
.
“Xiu, makin sering aku melukis dan mendengar ceritamu… Aku jadi ingin benar-benar melihat dunia,” ucap Chun. Suatu kali mereka duduk di ayunan di sisi rumah Xiu.
“Melihat dunia?” tanya Xiu.
“Hm! Meski aku tahu itu tidak mungkin… Kecuali Tuhan mengabulkan do’aku dan membuatku bisa melihat,” ucap Chun tetap mempertahankan senyumnya.
“Semoga, ya…” ucap Xiu lalu tersenyum.
Setelah hari itu, Chun tidak pernah bertemu Xiu kembali. Chun hanya tahu satu hal ketika matanya sudah berfungsi—beberapa hari setelah perban bekas operasinya dibuka. Ketika warna-warni sudah mampu dilihatnya. Ia tahu satu hal…
“祝 你生日快乐,尊!对不起 我不能陪你看世界. 请让我的眼睛. 因为我在那里… 李兆秀…(Zhu ni sheng ri kuai le, Chun! Dui bu qi wo bu neng pei ni kan shi jie. Qing rang wo de yan jing. Yin wei wo zai na li—Selamat ulang tahun, Chun! Maaf aku tidak bisa menemanimu melihat dunia. Tolong jaga mataku. Karena aku ada disana… Li Zhao Xiu…)”
Xiu pergi meninggalkan sebuah surat ucapan selamat ulang tahun. Dan mata yang mengajarinya melihat warna dunia itu, adalah milik Xiu—guru yang sudah dianggapnya seperti kakak baginya. Dalam hati ia tak henti-hentinya mengucapkan ribuan terima kasih. Sekelumit penyesalan atas permohonannya itu muncul ketika ia mendengar bahwa Xiu meninggal kemudian dalam kecelakaan.
“Xiu, wo da ying ni (aku janji padamu). Aku akan menjaga mata ini… Meski aku belum pernah sama sekali melihatmu, aku akan selalu mengenangmu, Xiu… Zhen de xie xie ni, Xiu… (sungguh terima kasih, Xiu)” Chun meletakkan bucket bunga matahari itu di atas sebuah makam. Itu makam Xiu…
.the end
Tidak ada komentar:
Posting Komentar