Title
: Umbrella. . .
Author
: dita-cHun
Type
: Ficlet [1.382 words—9 halaman Ms. Word]
Rating
: PG+12
Genre
: AU, Romance, Angst
Theme
Song :
Main
Cast :
*Yamada Ryosuke
*Nishiuchi
Mariya
*Hongo Kanata
Disclaimer
: All cast punya Tuhan, tapi saya nyewa buat ff ini! >w< *diblender*
Warning
: ~gaje binti abal~ segala kekurangan adalah milik saya
Hari ini mendung sudah hampir setengah hari menghiasi langit Tokyo. Di siang
musim panas seperti ini tidak biasanya langit tiba-tiba mendung tanpa titik
hujan. Seharusnya beberapa ratus orang saat ini sedang asyik berjemur di pantai
menghabiskan liburan musim panas. Namun, perkiraan cuaca hari ini tidak bagus.
Ombak di pantai lebih tinggi dari biasanya sehingga tidak banyak orang yang
pergi ke sana, selain penyuka olahraga surfing tentu saja.
Aku sendiri, Yamada Ryosuke, tengah duduk di halte kurang lebih seperempat jam
demi menunggu bus tujuanku pulang. Tidak banyak yang kulakukan di sini
sepanjang seperempat jam terakhir. Aku hanya mendengarkan siaran radio berita tentang
cuaca hari ini lewat headset yang tersambung dengan ponselku.
Kurang lebih lima menit kemudian aku mendapati bus tujuanku telah sampai di
hadapanku. Dengan sigap kulangkahkan kakiku menpaki tangga pertama bus. Sampai
di dalam aku lekas mengedarkan pandanganku, mencari tempat duduk yang pas
untukku menopang rasa lelah sepulang sekolah. Rupanya semua bangku bus nyaris
terisi, kecuali satu bangku nomor delapan pada baris ke empat. Kulihat seorang
wanita tengah duduk pada bangku nomor tujuh, tepatnya di samping bangkuku.
“E, permisi. Apa bangku ini kosong?” tanyaku sesopan mungkin. Wanita itu
menoleh, membuat sekilas pandangan kami bertemu. Sialan, wanita ini sangat
cantik, pikirku.
“Kurasa begitu,” jawabnya kemudian.
“Souka,” aku mengangguk paham dan lekas duduk pada bangku tersebut.
Diam-diam aku mencuri pandang pada gadis itu. Dari jarak sekian sentimeterpun
aku dapat mencium aroma parfumnya yang menyeruak sampai ke hidungku, olive
fragrance. Kelihatannya wanita ini beberapa tahun lebih tua dariku. Dari
dandanannya yang cukup berlebihan, aku menyimpulkan demikian.
Demi apapun, wanita ini benar-benar cantik!
“Ah, konnichiwa. Yamada Ryosuke desu. Anda?” tanyaku mencoba
berbasa-basi. Bagaimanapun aku harus tahu siapa nama wanita ini.
“Nishiuchi Mariya desu,” jawabnya diiringi segaris senyum di wajahnya.
“E, Nishiuchi-san—” kalimatku terpotong. “Panggil saja aku Mariya…”
“Eh? Hai’, Mariya-san… Kalau boleh tahu, kau mau pergi ke mana?” tanyaku.
“Ke rumah kerabatku, kau sendiri?”
“Eh, aku mau pulang… Hehe,” ucapku sembari menggaruk tengkukku yang sebenarnya
tidak ada masalah sedikitpun.
“Berapa usiamu?” tanyanya lagi.
“Dua hari lagi sembilan belas tahun, kau?” tanyaku mencoba memberanikan diri.
“Aku dua puluh satu,” jawabnya mantap.
“Souka…” aku kehabisan kata-kata. Entah kenapa rasanya nyaman sekali
duduk di sisi Mariya-san. Apa aku jatuh cinta? Pada Mariya-san? Secepat ini?
Tidak masuk akal!
Sepanjang perjalanan aku terus ribut dengan pikiran dan khayalanku. Suasana di
antara kami hening sejak pembicaraan terakhir kami. Sesungguhnya aku ingin
berbicara lagi, tapi aku tidak tahu apa lagi yang harus kukatakan. Apakah sopan
menanyakan alamat e-mail? Arrrgghh~ Rasanya aku mau menelan beton saja saat
ini!
**
Bus terus melaju kencang, membawa kami melewati setiap sudut kota Tokyo.
Tiba-tiba kurasakan hawa dingin menyeruak. Perlahan aku membuka mataku dari
tidur lelapku barusan, kutengok ke samping kiri. Mariya-san masih ada di sini,
di sampingku. Mungkin, rumah kerabatnya masih agak jauh.
“Kau bangun?” ucapnya begitu melihatku menguap. Aku mengangguk pelan.
“Eh? Hujan?!” jeritku sejenak. Membuat suasana di sekitarku hening seketika.
Beberapa pasang mata di dalam bus tengah melihat ke arahku. Aku lekas meminta
maaf atas tindakanku barusan pada mereka.
“Kenapa sepanik itu?” tanya Mariya.
“Rumahku masih cukup jauh dari halte…” jelasku singkat.
Kulihat Mariya merogoh tasnya, “Kebetulan aku bawa payung, pakailah…” ia
menyodorka sebuah payung lipat yang masih menangkup.
“Lalu kau?”
“Aku akan menelepon kerabatku agar menjemputku di halte berikutnya,” ucapnya
lembut. “Kau tidak perlu mengembalikannya, kok.”
“Tidak, aku pasti akan mengembalikannya padamu dua hari lagi!” ucapku semangat.
“Eh?”
“Aku akan mengembalikannya pada Mariya-san dua hari lagi…”
Alasan kenapa aku akan mengembalikan payung ini bukan karena aku sungkan pada
Mariya. Melainkan, aku ingin…
“Tidak perlu, kok.”
“Berikan saja alamat e-mailmu, nanti akan kuhubungi lagi. Ok?” aku mengeluarkan
ponselku sesegera mungkin dan segera memberikan padanya. Tampak ia mengetik
beberapa angka dan huruf disana kemudian memberikannya padaku.
“Itu alamat e-mailku,” ucapnya.
Aku ingin… Ada pertemuan berikutnya dari pertemuan ini. Pertemuan antara aku
dan Mariya-san…
“Baiklah, nanti kuhubungi lagi dimana kita akan bertemu lagi…”
Aku lekas turun dari bus begitu aku sampai di halte tujuanku. Kubuka payung
abu-abu tersebut dan segera membawanya pulang ke rumah bersamaku. Kuharap di
pertemuan berikutnya masih akan ada pertemuan-pertemuan berikutnya lagi. Karena
aku ingin bertemu Mariya-san… Lagi.
**
Dua hari setelah hari itu aku mengirim e-mail pada Mariya-san.
Kuputuskan untuk menemuinya di kediamannya. Ia pun tidak keberatan sama sekali
dengan hal itu. Sekitar lima menit setelah ia mengirimkan alamatnya aku
bergegas pergi kesana. Namun, sampai di tengah perjalanan, ponselku berdering.
“Ah, e-mail dari Mariya-san!”
.
KLIK
.
From
: nishiuchi-mariya@docomo.ne.jp
Mail
: Yamada-san, maaf mendadak mengabarimu. Bisakah kau mengembalikannya ke
gereja? Aku sedang ada di gereja sekarang.
From
: yamadaryosuke@docomo.ne.jp
Mail
: Souka, baiklah, aku akan kesana. Arigatou sudah mengabari.
Aku lekas mengambil langkah besar menuju arah gereja yang dimaksud. Aku sudah
tidak sabar ingin segera bertemu dengan Mariya-san. Dengan setengah berlari aku
pergi ke halte bus tak jauh di depanku. Aku ingin cepat sampai di gereja dan
menemui Mariya-san. Yosh!
Begitu sampai di gereja begitu banyak orang-orang berlalu lalang. Tumben sekali,
pikirku. Hari ini bukan paskah ataupun natal. Tapi, kenapa gereja tampak ramai
dengan orang-orang berpakaian rapi? Lalu apa yang dilakukan Mariya-san disana,
ya?
Terus membatin kurasa sama sekali tidak memecahkan masalah di dalam kepalaku. Kuputuskan
untuk melangkah masuk ke dalam gereja. Kulihat beberapa orang yang baru datang
lekas mengisi kursi-kursi gereja yang masih tampak kosong. Perlahan aku
mengikuti apa yang mereka kerjakan.
“E, sumimasen. Apa ada acara tertentu hari ini?” tanyaku pada seorang
wanita paruh baya di sampingku.
“Ne, ini kan pernikahan putri keluarga Nishiuchi dan putra keluarga
Hongo…” jawab wanita itu ringan. Sejenak aku tertegun. Apa ini pernikahan
kerabat Mariya-san?
Sudah sekitar sepuluh menit aku duduk di kursi ini. Aku mencari keberadaan
sosok Mariya-san. Namun, aku sama sekali tidak menjumpainya. Apa boleh
mengikuti upacara pernikahan orang yang sama sekali tidak kukenal?
“Yamada-san, kau sudah datang?” suara lembut itu dalam sekejap menyita
perhatianku. Kulihat Mariya-san berdiri tak jauh dari tempatku duduk. Di
sampingnya berdiri seorang laki-laki tegap yang sama sekali tak ku kenal.
“Ah, Kanata, aku lupa menceritakan anak ini padamu. Dia Yamada Ryosuke,” ucap
Mariya-san memperkenalkanku pada pria itu. Aku mengangguk memberi salam pada
pria itu.
“Hongo Kanata desu,” ucapnya membalas anggukanku.
“Ne, Mariya-san, siapa yang akan menikah? Kerabatmu, kah?” tanyaku.
“Bukan. Itu… Aku yang akan menikah. Tepatnya dengan Kanata, kekasihku…” kalimat
itu mengalir begitu saja dari bibirnya dengan begitu lancar. Matanya berbinar
ketika kalimat itu meluncur dan tentu segaris senyum itu tidak pernah luput
dari wajah cantiknya.
Aku diam sejenak sebelum akhirnya kembali berucap, “Aah… Souka.”
Meski dalam hati kecilku mungkin aku tidak rela…
“Omedetou.”
Kata itu pada akhirnya tetap keluar dari bibirku.
“Semoga kalian berbahagia selamanya…”
Dengan senyum yang sengaja kupaksakan, aku mengukirnya di hadapan calon
pasangan pengantin itu.
“Arigatou, Yamada-san…” ucap mereka berdua nyaris bersamaan. Aku mengangguk,
menahan air mataku yang nyaris tumpah.
“Ne, aku ada satu permintaan pada Mariya-san…”
“Eh? Apa itu?”
“Boleh aku memiliki payung ini?”
“Eh, kenapa tiba-tiba? Tapi, itu sama sekali bukan masalah. Ambilah,
Yamada-san…”
.
TES!
.
Air mata itu mengalir keluar dari pelupuk mataku. “Arigatou. Ureshii
desu.”
“Yamada-san, doushita no?” kurasakan jemari lembut Mariya-san menghapus
air mataku.
“Iie. Daijoubu desu.” Jawabku. “Ne, sayonara…”
Aku lekas melangkahkan kaki keluar gereja. Sesekali kudengar Mariya-san
memanggil namaku, namun aku tak menoleh sama sekali. Pasti menyedihkan sekali
wajahku saat ini. Dan aku tidak ingin ia melihatku yang seperti ini.
Pada akhirnya, aku menginginkan payung ini menjadi milikku. Pulang kembali
bersamaku. Bukan berarti aku plin-plan. Ini hanya sekelumit cara agar aku mampu
mengobati sakit hatiku. Mariya-san memang sudah membuat hatiku membuncah hebat
dan dalam seketika ia telah mematahkan hatiku.
Alasan kenapa aku ingin payung ini kumiliki adalah karena sudah tidak akan ada
lagi pertemuan berikutnya setelah ini. Aku tidak akan bertemu kembali dengan
sosok sempurna Mariya-san. Lewat payung ini aku melihat bayang-bayang
Mariya-san. Sekalipun aku tidak dapat bertemu dengan Mariya-san, aku masih
ingin bertemu dengannya. Sekalipun itu hanya bayangannya dari payung lipat ini.
__the end__
Glosarium :
*Souka
: begitu…
*Konnichiwa
: selamat siang/hallo
*Arigatou
: terima kasih
*Sumimasen
: permisi/maaf
*Omedetou
: selamat
*Ureshii desu :
aku senang
*Iie
: tidak
*Daijoubu
: tidak apa-apa
*Sayonara
: selamat tinggal/sampai jumpa
*Doushita no :
ada apa?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar